Jumat, 09 Juli 2021

Magang 1, Pertemuan 10

 Perangkat Pembelajaran ( Silabus, RPP, media pembelajaran, bahan ajar, LKS, perangkat evaluasi)

baiklah pada kesempatan kali ini yaitu pertemuan ke 10 saya akan menuliskan hasil lapran saya,yang disin saya akan membahas tentang  Perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, rpp, media pembelajaran, bahan ajar, lks, perangkat evaluasi, 


a. silabus, Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (BSNP, 2006: 14). 

B. Landasan Pengembangan Silabus 

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17 Ayat (2): 

”Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK”. 

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. 

C. Prinsip Pengembangan Silabus 

1. Ilmiah 

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 

2. Relevan 

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik. 

3. Sistematis

Komponen-komponen silabus salings fungsional dalam mencapai kompetensi. 

4. Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. 

5. Memadai 

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. 

6. Aktual dan Kontekstual 

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutahir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi. 

7. Fleksibel 

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasikan keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. 

8. Menyeluruh 

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor) (BNSP, 2006: 14).

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Linkup rencana pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. RPP berisi bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal. RPP adalah rancangan yang didalamnya berisi gambaran prosedur penyampaian dan pengorganisasian pembelajaran yang akan digunakan guru sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. 

1. Tujuan dan Fungsi RPP Tujuan penyusunan RPP antara lain: (1) mempermudah dan memperlancar proses pembelajaran, serta meningkatkan hasil pembelajaran.(2) memungkinkan guru untuk dapat melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi program pemelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana.Sementara itu, fungsi rencana pembelajaran adalah sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (kegiatan pembelajaran) agar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain RPP berperan sebagai skenario proses pembelajaran hendaknya bersifat fleksibel sehingga guru dapat dengan mudah menyesuaikannya dengan respon siswa dalam proses pembelajaran. 

2. Unsur-unsur yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan RPP yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPP adalah : 

1. Mengacu pada komptensi dan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa, serta materi dan submateri pembelajaran, pengalaman belajar yang telah di kembangakan di dalam silabus; 

2. Menggunakan berbagai pendekatan yang sesuai dengan materi yang memberikan kecakapan hidup (life skills) sesuai dengan permasalahan dan lingkungan sehari-hari; 

3. Menggunakan metode dan media yang sesuai, yang mendekatkan siswa pengalaman langsung; 

4. Penilaian dengan sistem pengujian menyeluruh dan berkelanjutan didasarkan pada sistem pengujian yang dikembangkan selaras dengan pngembangan silabus. 

3. Komponen-komponen RPP,Komponen-komponen RPP terdiri dari:

1. Identitas mata pelajaran;

 2. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar;

 3. Materi pembelajaran; 

4. Strategi atau skenario pembelajaran; 

5. Sarana dan Sumber pembelajaran; 

6. Penilaian dan tindak lanjut;

c. Media Pembelajaran

Media merupakan bagian dari komponen pembelajaran, manfaat dan fungsi media dalam pembelajaran sangat dirasakan baik oleh tenaga pendidik maupun siwa. Keberhasilan media dalam meningkatkan kualias belajar siwa ditentukan pada bagaimana kemampuan guru dalam memilih media yang akan digunakan. Ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan oleh guru untuk memilih media yaitu; a. Pertimbangan siswa, b. Pertimbangan tujuan pembelajaran, c. Pertimbangan strategi pembelajaran, d. Pertimbangan kemampuan dalam merancang dan menggunakan media, e. Pertimbangan biaya, f. Pertimbangan sarana dan prasarana, dan g. Pertimbangan efesiensi dan efektifitas. Implementasi pemilihan media secara teoritis mengikuti langkah-langkah sebagimana tersebut di atas dalam pembelajaran, belum dilakukan oleh sebahagian tenaga pendidik, hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kurangnya sikap inovatif dan kemampuan dalam pemilihan dan pengembangan media yang dimiliki oleh tenaga pendidik. Kecenderungan lain sebahagian guru memiliki sikap statis dan menggunakan cara-cara konvensional dalam melakukan proses pembelajaran. Oleh karena itu, agar pemilihan media dalam pembelajaran sesuai dengan teorinya, maka ada tiga faktor yang perlu ditingkatkan yaitu: pertama kemampuan guru, kedua sikap inovatif guru dan ketiga ketersediaan sarana dan prasarana.

d. Bahan ajar

ahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran apabila dikembangkan sesuai kebutuhan guru dan siswa serta dimanfaatkan secara benar akan merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Dengan adanya bahan ajar maka peran guru dan siswa dalam proses pembelajaran bergeser. Semula guru dipersepsikan sebagai satu-satunya sumber informasi di kelas, sementara siswa diposisikan sebagai penerima informasi yang pasif dari gurunya. Dengan adanya bahan ajar maka guru bukan lagi merupakan satu-satunya sumber belajar di dalam kelas. Dalam hal ini, guru lebih diarahkan untuk berperan sebagai fasilitator yang membantu dan mengarahkan siswa dalam belajar. Sementara dengan memanfaatkan bahan ajar yang telah dirancang sesuai kebutuhan pembelajaran, siswa diarahkan untuk menjadi pembelajar yang aktif karena mereka dapat membaca atau mempelajari materi yang ada dalam bahan ajar terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran di kelas. Dengan demikian, pada saat pembahasan materi di kelas, siswa sudah siap dengan bekal informasi dan pengetahuan yang cukup sehingga waktu belajar yang tersedia tidak lagi digunakan guru untuk menjelaskan materi secara panjang lebar, tetapi lebih banyak digunakan untuk diskusi dan membahas materi-materi tertentu yang belum dipahami siswa.

e. LKS

disini saya akan membahas tentang Penggunaan LKS berbasis POE (Predict, Observe, Explain) menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk menerapkan sistem balajar aktif seperti yang telah dirumuskan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Karena dengan menggunakan LKS yang berbasis POE, siswa dibimbing untuk memprediksikan dahulu, selanjutnya melakukan observasi dan ahirnya siswa akan menjelaskan benar atau salah prediksi awal yang mereka ambil atau buat. Selain itu penggunaan LKS berbasis POE ini dapat digunakan untuk menemukan ide siswa, dan juga menyediakan.

e. perangkat evaluasi

Evaluasi adalah proses penentuan kesesuaian pembelajar dan belajar. Evaluasi dimulai dengan analisis masalah. Analisis masalah merupakan langkah awal yang penting dalam pengembangan dan evaluasi pembelajaran. Dalam domain evaluasi terdapat empat kategori yaitu analisis masalah, pengukuran beracuan kriteria, evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Hubungan antar kawasan dalam menunjang teori dan praktek pembelajaran bersifat sinergigetik. sebagai contoh seorang praktisi yang bekerja dalam kawasan pengembangan menggunakan teori dari kawasan desain seperti teori desain sistem pembelajaran dan desain pesan. Seorang praktisi yang bekerja dalam kawasan desain menggunakan teori mengenai karakteristik media dari kawasan pengembangan dan kawasan pemanfaatan dan teori mengenai analisis masalah dan pengukuran dari kawasan penilaian. 


Magang 1, pertemuan 9

 Sistem evaluasi

baiklah pada pertemuan ke 9 ini saya akan menyampaikan hasil laporan saya yang berjudul  sistem evaluasi,

 yang mana evaluasi dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas belajar siswa. Sehubungan dengan hal tersebut, optimalisasi sistem evaluasi memiliki dua makna, pertama adalah sistem evaluasi yang memberikan informasi yang optimal. Kedua adalah manfaat yang dicapai darievaluasi. Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan kulitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan Di sisi lain evaluasi pada program 

pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan pembelajaran dan tingkatketercapaian tujuannya. Kondisi yang demikian tidak hanya terjadi pada jenjangpendidikan tinggi, tetapi juga terjadi di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program pembelajaran di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan penilaian. Dengan demikian evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak disadari, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan cermin apakah penampilannya sudah wajar atau belum, sampai pada hal-hal yang lebih besar dalam kehidupan manusia.

 Jadi disini terdapat pengertian evaluasi, Secara etimologi "evaluasi" berasal dan bahasa Inggris yaitu evaluation dari akar kata value yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa Arab disebut al-qiamah atau al-taqdir’ yang bermakna penilaian (evaluasi). Sedangkan secaraharpiah, evaluasi pendidikan dalam bahasa Arab sering disebut dengan al-taqdir al-tarbiyah yang diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Secara terminologi,beberapa ahli memberikan pendapat tentang pengertian evaluasi diantaranya: Edwind dalam Ramayulis mengatakan bahwa evaluasi mengandung pengertian suatu tindakan atau proses dalam menentukan nilai sesuatu (Ramayulis, 2002). M.Chabib Thoha, mendefinisikan evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk rnengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan (Thoha, 1990).Pengertian evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek dan yang lainnya) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian. Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan dengan kriteria umum, dapatpula melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian membandingkan dengan kriteria tertentu. Dalam pengertian lain antara evaluasi, pengukuran, dan penilaian merupakan kegiatan yang bersifat hirarki. Artinya ketigakegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Dalam kaitan ini ada dua istilah yang hamper sama tetapi sesungguhnya berbeda, yaitu penilaian dan pengukuran. Pengertian pengukuran terarah kepada tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas sesuatu, karena itu biasanya diperlukan alat bantu. Sedangkan penilaian atau evaluasi terarah pada penentuan kualitas atau nilai sesuatu. Evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam kegiatan pembelajaran adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pernbelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif sementar pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif. Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai selarna mengikuti pendidikan. Pada kondisi dimana siswa mendapatkan nilai yang mernuaskan, maka akan memberikan dampak berupasuatu stimulus, motivator agar siswa dapat lebih meningkatkan prestasi. Pada kondisi dimana hasil yang dicapai tidak memuaskan, maka siswa akan berusaha memperbaiki kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian stimulus positif dari guru/pengajar agar siswa tidak putus asa. Sedangkan evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Lebih jauh Jalaludin mengatakan bahwa evaluasi dalam pendidikan lslam telah menggariskan tolak ukur yang serasi dengan tujuan pendidikannya. Baik tujuan jangka pendek yaitu membimbing manusia agar hidup selamat di dunia, maupun tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan di akhirat nanti. Kedua tujuan tersebut menyatu dalam sikap dan tingkah laku yang mencerminkan akhlak yang mulia. Sebagai tolak ukur dan akhlak mulia ini dapat dilihat dari cerminan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. 

 selain itu tedapat juga tujuan evaluasi, yang mana tujuan evaluasi yaitu,untuk memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar siswa dan memberikan masukan kepada guru mengenai apa yang dia lakukan dalam kegiatan pengajaran

Menurut Sudirman N, dkk, bahwa tujuan penilaian dalam proses 

pembelajaran adalah: 

1. Mengambil keputusan tentang hasil belajar.

2. Memahami siswa,

3. Memperbaiki dan mengembangkan program pengajaran. 

 Ketidakberhasilan prosespembelajaran itu disebabkan antara lain sebagai berikut:

1. Kemampuan siswa yang rendah.

2. Kualitas materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat usia anak.

3. Jumlah bahan pelajaran terlalu banyak sehingga tidak sesuai dengan waktu

yang diberikan.

4. Komponen proses belajar dan mengajar yang kurang sesuai dengan tujuan 

yang telah ditetapkan oleh guru itu sendiri. 


selain itu juga evaluasi mempunyai beberapa

fungsi. Berdasarkan Undang-undang RI tentang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003Pasal 58 ayat 1 bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untukmembantu proses, kemajuan, dan perkembangan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Menurut M. Ngalim Purwanto bahwa kewajiban bagi setiap guru untuk melaksanakan kegiatan evaluasi itu (Purwanto, 1991). Hal ini karena pada akhirnya guru harus memberikan informasi lembaganya ataupun kepada siswanya itu sendiri, mengenai bagaimana dan sampai dimana penguasaan dankemampuan telah dicapai oleh siswa tentang materi dan keterampilan mengenaimata pelajaran yang telah diberikannya.Dari kedua pendapat tersebut dapat dipahami bahwa evaluasi mutlakdilakukan dan merupakan kewajiban bagi setiap guru dalam setiap saatmelaksanakan kegiatan pembelajaran. Disebut demikian, karena menjadi salahsatu tugas pokok guru selain mengajar, adalah melaksanakan kegiatan evaluas.Evaluasi dan kegiatan mengajar merupakan satu rangkaian yang sangat erat dimana antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Lebih dari itu juga adalah guruharus mengetahui tugas dan fungsi evaluasi itu sendiri. Dikatakan demikian agarguru mudah menerapkannya untuk menilai kegiatan pembelajaran pada rumusan tujuan yang telah ditetapkannya tercapai. 

Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:

a. Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.

b. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.

c. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.

d. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan 

sebagainya.

1. Penilaian Berfungsi Diagnostik 

Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu, diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.

2. Penilaian Berfungsi Sebagai Penempatan Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara Barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadapkemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

3. Penilaian Berfungsi Sebagai Pengukur Keberhasilan Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan system administrasi.

selain itu terdapat juga Manfaat Evaluasi 

yang mana Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu:

a. Memahami sesuatu: mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen.

b. Membuat keputusan: kelanjutan program penanganan “masalah", dll.

c. Meningkatkan kualitas PBM: komponen-komponen PBMSementara secara lebih khusus evaluasi akan member manfaat bagipihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah. 

1. Bagi Siswa; mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran Memuaskan atau tidak memuaskan

2. Bagi Guru; a) mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuanmelanjutkan remedial atau pengayaan, b) ketepatan materi yang diberikanjenis, lingkup, tingkat kesulitan, c) Ketepatan metode yang digunakan.

3. Bagi Sekolah; a) Hasil belajar cermin kualitas sekolah, b) membuat program sekolah, c) pemenuhan standar.

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa evaluasi sangat perlu/bermanfaat dan merupakan syarat mutlak untuk perbaikan, agar mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Jika kita temukan hubungan antara hasil belajardengan efektivitas metode mengajar terbukalah kemungkinan untuk mengadakan perbaikan. Sebelum kita mengevaluasi kemampuan metode baru pada sejumlah peserta didik, perlu kita pikirkan bahwa proses pembelajaran itu dinamis, senantiasa terjadi perubahan pada guru maupun murid dalam interaksi itu. Disamping hasil belajar seperti diharapkan oleh guru mungkin timbul pula hasil sampingan yang positif maupun negatif misalnya, murid-murid menguasai bahan yang disajikan akan tetapi Ia disamping itu merasa senang atau benci terhadap tindakan pribadi gurunya.

 

Evaluasi sebagai suatu kegiatan mengumpulkan data dan informasi mengenai kemampuan belajar siswa, untuk menilai sudah sejauh mana program (pengembangan sistem instruksional) telah berjalan, dan juga sebagai suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan telah berlangsung sebagaimana mestinya. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa dalam suatu proses pembelajaran, sekaligus untuk memahami siswa sampai sejauh mana dapat memberikan bantuan terhadap kekurangan-kekurangan siswa, dengan tujuan menempatkan siswa pada situasi pembelajaran yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan fungsi evaluasi untuk membantu proses, kemajuan dan perkembangan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan, dan sekaligus dapat mengetahui kemampuan dan kelemahan siswa pada bidang studi tertentu, sekaligus dapat memberikan informasi kepada orang tua wali siswa mengenai penentuan kenaikan kelas atau penentuan kelulusan siswa.

Magang 1, pertemuan 8

 Perangkat Pembelajaran 

Baiklah pada kesempatan  saya akan menampilkan hasil laporan bacaan saya yang berjudul Perangkat Pembelajaran .

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Menerangkan silabus, O’Brien (2008: 13), menyatakan bahwa silabus merupakan dokumen singkat yang memuat informasi dasar tentang materi pembelajaran, siapa yang mengajar, keterampilan apa yang akan didapat, buku apa yang digunakan, perlengkapan apa saja yang diperlukan, tes apa yang akan digunakan, bagaimana sistem penilaian. Silabus juga dapat menyampaikan struktur pembelajaran dan organisasi pembelajaran dan memperjelas tujuan utama, menyediakan rencana umum dan referensi. Silabus dapat memperjelas tanggung jawab guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini dapat memberikan gambaran pada siswa untuk menilai rencana pembelajaran dengan rasional meliputi konten, kegiatan, kebijakan, dan penjadwalan untuk melakukan kontrol atas proses belajar mereka. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan bahwa silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. 

Menurut Munif Chatib (2013: 192) rencana pembelajaran atau lesson plan adalah perencanaan yang dibuat oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran yang di dalamnya terdapat strategi yang akan digunakan untuk memberikan materi. Struktur lesson plan terdiri dari tiga bagian yaitu (1) header atau pembuka yang isinya dibagi menjadi dua, identitas dan silabus; (2) content atau isi yang dibagi menjadi apersepsi, strategi mengajar, prosedur aktivitas, teaching aids, sumber belajar, dan proyek; (3) footeriatau penutup, terdiri dari rubrik penilaian dan komentar guru. Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Lembar kerja proyek merupakan urutan kegiatanyang harus dilakukan siswa untuk memulai sebuah proyek. Dalam lembar kerja proyek siswa dituntun secara berahap apa saja yang harus dilaksanakan dan menuliskan hasil kegiatan yang diakukan pada tempat yang sudah disediakan. 

Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran. Media pembelajaran merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari RPP dan dirancang sejak awal dengan berbagai pertimbangan. Slavin (2011: 68) menyatakan bahwa media pembelajaran merupakan salah satu wujud penerapan teknologi dalam pendidikan. Menurut Slavin, setidaknya ada tiga jenis penerapan teknologi dibidang pendidikan. Pertama, guru menggunakan teknologi ke dalam pengajaran mereka di dalam kelas untuk merencanakan pengajaran yang menyajikan isi pelajaran kepada siswa mereka. Kedua, guru menggunakan teknologi untuk menjajaki, melatih dan menyiapkan makalah presentasi. Ketiga, guru dan pengurus menggunakan teknologi untuk mengerjakan tugas administrasi yang terkait dengan profesi mereka seperti penilaian, pembuatan catatan, pelaporan dan tugas pengelolaan. Penilaian merupakan tahap akhir dari rangkaian proses pengajaran, dari mempersiapkan proses pengajaran, melakukan proses pengajaran, hingga penilaian pembelajaran. Penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. 

Menurut Slavin (2011: 262) penilaian adalah pengukuran sejauh mana siswa telah mempelajari tujuan yang ditetapkan bagi mereka. Penilaian dapat dilakukan dengan melakukan ulangan harian, mengajukan pertanyaan langsung ke siswa, memperhatikan proses pembelajaran siswa dengan menulis esai, melukis atau menginstal komputer. Menurut Jacobsen, dkk. (2009: 209) penilaianmerupakan teknik-teknik yang dilakukan untuk menentukan apakah siswa sudah mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan selama tahap pembelajaran. Penilaian ini mencakup semua proses yang dilibatkan dalam membuat keputusan-keputusan tentang kemajuan pembelajaran siswa. Proses ini termasuk pengamatan atas tugas tertulis siswa, jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan di dalam kelas, maupun tingkah laku siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru (teacher-made test) atau tes-tes yang telah terstandarisasi (standarized test). Hasil dari penilaian ini akan menjadi bahan untuk memberikan umpan balik yang akan diberikan ke siswa. Penilaian yang baik meniscayakan kesistematisan dan berkelanjutan.

Magang 1, pertemuan 7

 Karakteristik Peserta Didik 


 Baik lah pada kesempatan kali ini yaitu di pertemuan ke 7 saya akan membahas atau menyampaikan laporan bacaan saya yang berjudul karakeristik peserta didik .

 Yang mana Pengertian Karakteristik Peserta Didik Seorang guru dalam proses perencanaan pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik dan kemampuan awal peserta didik.Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik untuk menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku atau tujuan dan materi. Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagaiciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial (Atwi Suparman, 2001: 123). Disamping pemahaman karakteristik umum diatas, terdapat juga karakteristik khusus yang disebut dengan non konvesional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat, serta tingkat kedewasaan. Hal ini berpengaruh pada penggunaan bahasa, penghargaan atau pengakuan, perlakuan khusus, dan metode strategi dalam proses pengajaranKarakteristik peserta didik Ada dua karakteristik kemampuan awal peserta didik yang perlu dipahami oleh guru yakni: 

1) Latarbelakang akademik 

a. Jumlah peserta didik  

b. Latar belakang peserta didik 

c. Indeks prestasi 

d. Tingkat intelegensi 

e. Keterampilan membaca 

f. Nilai ujian 

g. Kebiasaan belajar/ gaya belajar 

h. Minat belajar 

i. Harapan atau keinginan peserta didik 

j. Lapangan kerja yang diinginkan 

Faktor-faktor sosial 

a. Usia 

b. Kematangan (maturity) 

c. Rentangan perhatian (attention span) 

d. Bakat- bakat istimewa 

e. Hubungan dengan sesama peserta didik 

f. Keadaan sosial ekonomi 


Selain itu kita juga perlu memahami karakerstik peserta didik, yang mana Manfaat memahami karakteristik peserta didik Memahami berbagai macam karakteristik awal para peserta didik diatas memiliki beberapa manfaat yakni: 

a) Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para peserta didik, yang berfungsi sebagai pra syarat bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan pra syarat yang telah dimiliki oleh peserta didik sebelumnya. 

b) Memperoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan berdasarkan pengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh serta ilustrasi yang tidak asing bagi peserta didik. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh para guru. 

c) Mengetahui latar belakang sosial kultural para peserta didik, termasuk latar belakang keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi, dan dimensi-dimensi kehidupan lainnya yang melatar-belakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. 

d) Mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, baik jasmaniah maupun rohaniah. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar peserta didik. Dengan demikian guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang lebih sesuai bagi mereka atas kesiapan membaca dan menunjuk para perilaku yang harus diperoleh oleh peserta didik sebelum peserta didik mulai membaca. Kematangan menunjuk pada pertumbuhan biologis yang terjadi berkat pengaruh hereditas, misalnya pertumbuhan berat, tingkat badan, besarnya otot, suara, dan lain-lain. 

e) Untuk menentukan kelas-kelas tingkah laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu perangkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar, antara yang satu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal. 

f) Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para peserta didik. Dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok. 

Langkah-langkah analisis kemampuan peserta didik Ada tiga langkah yang perlu dilakukan dalam mengadakan analisis kemampuan awal peserta didik berupa: 

a. Melakukan pengamatan atau observasi kepada peserta 

b. Tabulasi karakteristik perorangan peserta didik.

c. Pembuatan daftar strategi karakteristik peserta didik.

Jadi dapat kita simpulkan dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa memahami usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yangdigunakan terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.  Interaksi antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari dengan menyatakan bahwa peserta didik sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar yang efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar peserta didik bisa membantu para guru dalam mengembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama peserta didik dalam proses belajar.

Magang 1, pertemuan 6

assallamuallaikum wr.wb, baiklah pada kali ini saya akan menyampaikkan hasil laporan saya yang berjudul  4 Kompetensi Guru Profesional,  yang mana Empat Kompetensi GuruKompetensi guru dapat diartikan sebagaikebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuhtanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. jelas bahwa seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimilikinya, kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksisosial baik dengan sesama peserta didik maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Karena seorang guru tidak hanya terampil dalam mengajar tentu juga harus memiliki pribadiyang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. (Feralys Novauli, 2015 : 46) 

Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi di samping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam prosedur dan sistem pengawasan tertentu. Kompetensi diartikan dan dimaknai sebagai perangkat perilaku efektif yang terkait dengan eksplorasi dan investigasi, menganalisis dan memikirkan, serta memberikan perhatian, dan mempersepsi yang mengarahkan seseorang menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Kompetensi bukanlah suatu titik akhir dari suatu upaya melainkan suatu proses yang berkembang dan belajar sepanjang hayat (life long learning process). Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar kompetensi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.  penyesuaian substansi dengan tuntutan dan ruang gerak kurikuler, serta pemahaman manajemen pembelajaran. (Reksa Setiawan, 2015 : 132).

Empat kompetensi guru menurutSyaiful Sagala (2009 : 39-41) :

1. Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik meliputi a) pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan, b) guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, c) guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar, d) guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, e) mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif, f) mampu melakukan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur dan standar yang dipersyaratkan, dan g) mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi Kepribadian, dilihat dari aspek psikologis kompetensi kepribadian guru menunjukkan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian a) mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial, dan etika yang berlaku, b) dewasa yang berarti mempunyai kemandirian untuk bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru, c) arif dan bijaksana yaitu tampilannya bermanfaat bagi peserta peserta didik, sekolah, dan masyarakat dengan menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak, d) berwibawa yaitu perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap peserta didik, dan e) memiliki akhlak mulia dan memiliki perilaku yang dapatditeladani oleh peserta didik, bertindak sesuai norma religius, jujur, ikhlas, dan suka menolong.

3. Kompetensi Sosial, artinya kompetensi sosial terkait dengan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, guru berperilaku santun, mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif dan menarik mempunyai rasa empati terhadap orang lain. Kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan menarik dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, masyarakat sekitar sekolah dan sekitar dimana pendidik itu tinggal, dan dengan pihak-pihak berkepentingan dengan sekolah.

4. Kompetensi Profesional, mengacu pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Mengenai perangkat kompetensi profesional biasanya dibedakan profil kompetensi yaitu mengacu kepada berbagai aspek kompetensi yang dimiliki seorang tenaga profesional pendidikan dan spektrum kompetensi yaitu mengacu kepada variasi kualitatif dan kuantitatif. Tanpa kompetensi, guru bak nahkoda di tengah samudra minus keahlian memadai, sementara di depannya ombak tinggi siap menggulung kapal. Sudah pasti nahkoda yang minus keahlian itu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kapalnya tenggelam tersapu ombak ke dasar samudera. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012: 102)Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012 : 107)

 jadi disini Empat kompetensi guru perlu dipahami dan dihayati bagi setiap guru maupun calon guru. Dengan penguasaan kompetensi pedagogis,kepribadian, sosial dan profesional maka guru dapat melakukan hal yang semestinya dilakukan guru yang tentunya sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini perlu dipahai supaya sedikit demi sedikit dapat menghilangkan persepsi bahwa tugas guru hanyalah sebagai fasilitator menyampaikan materi atau sekedar mentransfer pengetahuan.Dengan demikian tujuan pendidikan yang telah dibuat bersama dapat tercapai. Tanpa kompetensi, guru bak nahkoda di tengah samudra minus keahlian memadai, sementara di depannya ombak tinggi siap menggulung kapal. Sudah pasti nahkoda yang minus keahlian itu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kapalnya tenggelam tersapu ombak ke dasar samudera.SaranSebagai pendidik atau calon pendidik sebaiknya mulai belajar memahami dan menerapkan empat kompetensi guru. Empat kompetensi tersebut penting sebagai bekal untuk menemukan hakikat pendidikan dan bekal mencapai tujuan pendidikan sekolah dasar di Indonesia supaya pendidikan di Indonesia semakin baik. Dengan adanya pendidikan yang baik maka akan terlahir sumberdaya manusia yang baik pula.

Magang 1, Pertemuan 5

 Manajemen Kelas 


baik lah pada pertemuan ini saya akan melaporkan hasil bacaan saya yang berjudul  Manajemen Kelas yang mana Manajemen merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Karena terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. 

    Jadi disini kita  dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah suatu  penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Sebelum kita membahas tentang manajemen kelas, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian dari pada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yakni :

a. Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.

b. Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kelas diartikan sebagai ruangan belajar atau rombongan belajar, yang dibatasi oleh empat dinding atau tempat peserta didik belajar, dan tingkatan (grade). Ia juga dapat dipandang sebagai kegiatan belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat dan waktu tertentu.

Setelah berbicara tentang pengertian dari Manajemen dan Kelas diatas, maka dibawah ini para ahli pendidikan mendefinisikan manajemen kelas, antara lain :

 Menurut definisi ini, yang dimaksud dengan manajemen kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimumkan efisiensi, memantap kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalap  yang mungkin timbul. 

 

Drs. Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa “manajemen kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.” Dari beberapa pendapat para ahli diatas dan masih banyak lagi pendapat yang lain, 

jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah.

selain itu terdapat juga unsur-unsur manajemen:

a. Man (Manusia) Dalam pendekatan ekonomi, sumber daya manusia adalah salah satu faktor produksi selain tanah, modal, dan keterampilan. 

b. Money (Uang) Uang selalu dibutuhkan dalam perusahaan, mulai dari pendirian perusahaan hingga pengurusan perizinan pembangunan gedung kantor, pabrik, peralatan modal, pembayaran tenaga kerja, pembelian bahan mentah, dan transportasi. 

c. Material (Bahan Baku)Perusahaan umumnya tidak menghasilkan sendiri bahan mentah yang dibutuhkan tersebut, melainkan membeli dari pihak lain. 

d. Machine (Mesin) Mesin mulai memegang peranan penting dalam proses produksi setelah terjadinya revolusi industri dengan ditemukannya mesin uap sehingga banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin. 

e. Methode (Metode) Metode kerja sangat dibutuhkan agar mekanisme kerja berjalan efektif dan efisien. 

f. Market ( Pasar) Pasar merupakan tempat kita memasarkan produk yang telah diproduksi.Pasar sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan. 

g. Information (Informasi)Tentu saja informasi sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan. Informasi tentang apa yang sedang populer, apa yang sedang disukai, apa yang sedang terjadi di masyarakat, dsb. 


Jadi Manajemen tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya ketujuh unsur tersebut.

Unsur- unsur pengelolaan kelas meliputi:

1. Preventif, yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran. Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan preventis antara lain :

a) Tanggap / peka, 

b) Perhatian \\

2. Refrensif, keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas.

3. Modifikasi Tingkah laku, yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati.

a) Pengelolaan kelompok, 

b) Diagnosis

Selain itu terdapat juga  Fungsi Manajemen Kelas, Fungsi manajemen adalah sebagai wahana bagi perserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya.

Selain itu manajemen kelas juga mempunyai tujuan, yang mana tujuannya ialah manajemen kelas mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); 

Adapun tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut :

a. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

b. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan atau perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban. 

c. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.

Jadi, Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi di dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan manajemen kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 

 selain itu Disini ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pertimbangan dalam upaya menciptakan disiplin kelas yang efektif, antara lain sebagai berikut : 

a. Pendekatan Manajerial 

b. Pendekatan Psikologis

c. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

d.  Pendekatan Elektif (Electic Approach) 


Manajemen Kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar meliputi: perencanaan pembelajaran, pengarahan, mengatur ruang kelas, komunikasi; dan kontrol. Hal ini diimplementasikan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar sehingga dapat meraih prestasi yang murni. selain itu adajuga Faktor penghambat manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar adalah . Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang. selain itu Faktor peserta didik. Kekurang sadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas. ada juga Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan Keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik pengganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home. selain itu ada juga Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.

 selain faktor, kita juga harus adaUsaha-usaha yang harus ditempuh dalammanajemen kelas sehingga dapat meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar yaitu: a) mempersiapkan tugas administratif, b) penggunaan metode pembelajaran dan media pembelajaran yang bervariasi; dan c) menggunakan pendekatan pluralistik.

Magang 1, Pertemuan 4

 Kultur sekolah 

Baiklah pada kesempatan ini saya akan menuliskan hasil laporan saya yang berjudul kultur sekolah, yang mana Sekolah merupakan institusi pendidikan yang menjadi wadah dan berlangsungya proses pendidikan, memiliki sistem yang komplek dan dinamis dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju. Sekolah sebagai pusat pendidikan formal lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan efektifitas dalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat (Gunawan, 2010: 113), selain itu sekolah haruslah bersikap antisipatif dalam proses pertumbuhan dari masa sekarang menuju masa depan dengan nilai-nilai, visi, misi dan strategi serta program yang jelas (Maliki, 2010: 276). 


sekolah merupakan sebuah lembaga, maka tidak terlepas dari peran yang melekat pada institusi pendidikan tersebut.Sekolah merupakan  suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang membentuk satu kesatuan yang utuh. Jadi di sekolah itu terdapat berbagai macam sistem sosial yang berkembang dari sekelompok individu yang saling berinteraksi, saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga membentuk suatu perilaku yang baik atau buruk dari hasil  hubungan individu dengan individu maupun dengan lingkungannya (Dewi, 2012).

Sekolah sebagai tempat terjadinya proses pendidikan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah diterapkan sejak dahulu untuk mendidik siswa. Ketika kebiasaan-kebiasaan, tata cara dan norma-norma dari sekolah sudah diterapkan sejak dahulu untuk keberlanjutan proses pendidikan di sekolah dalam saat ini, yang kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture). 

Yang mana disini juga terdapat  budaya sekolah merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah sebab merupakan suatu yang dapat menjelaskan, menggambarkan, dan mengidentifikasi mengenai sekolah tersebut baik secara nyata maupun tidak nyata. Misalnya menjelaskan mengenai tujuan, visi dan misi dari adanya pembangunan sekolah tersebut.

Terkait dengan sekolah, budaya atau kultur merujuk pada suatu proses pewarisan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat.

Konsep kultur menurut Deal dan Peterson (Hanum, 2013: 194) memiliki sejarah yang panjang untuk mengeksplorasi perilaku-perilaku manusia dalam kelompok-kelompoknya. Dan 

menurut Brown (Hanum, 2013: 194) kata budaya (culture) itu sendiri secara umum menunjukkan kepada sebuah kumpulan nilai-nilai, sikap, kepercayaan dan norma-norma bersama, baik yang eksplisit,maupun yang bersifat implisit. 


Setiap sekolah memiliki kultur yang berbeda-beda sesuai dengan budayanya yang telah melekat dalam ritual-ritual dan tradisi-tradisi sejarah dan pengalaman sekolah.

Jadi sekolah sekolah yang baik sekolah tersebut memiliki kultur yang baik akan mendapat apresiasi dari masyarakat. 

Dalam memasarkan sekolah yang unggul dan berkualitas menjadi modal untuk menarik minat masyarakat. Dengan citra tersebut, maka sekolah  ini akan mendapat pengakuan dari masyarakat. Jadi itulah perlunya memasarkan sekolah yang unggul. Maka para orang tua tidak akan ragu menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah pilihan yang sudah mendapat kepercayaan tersebut. Selain keunggulan, kita juga harus mempunya bukti bahwa sekolah tersebut baik, dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa sekolah itu baik.

Kultur sekolah mendukung terciptanya motivasi berprestasi untuk para siswa di sekolah. Sebagai sasaran dan obyek dalam dunia pendidikan, peserta didik diberikan kesempatan yang sama dalam mengasah bakat, minat, keterampilan, (skill), dan pengetahuan yang telah diperoleh selama berada di sekolah. Setiap peserta didik membawa kulturnya masing-masing dari sekolah sebelumya dan harus disesuaikan dengan keadaan kultur sekolah yang baru (Hanum, 2013). 

Selain itu Untuk menciptakan kultur berprestasi agar peserta didik tertarik dan mau terlibat dengan perbaikan mutu sekolah maka komponen sekolah yang sudah sepakat untuk memajukan kultur sekolah yang baik harus bekerja keras membangkitkan semangat berprestasi untuk para siswa. Khususnya kepala sekolah dan guru, yang berinteraksi secara langsung dengan orang tua dan siswa di sekolah dalam membangun semangat dan mendukung keputusan dari siswa untuk mendalami kemampuan ang mereka miliki. Jadi disini perlu sekali bimbingan dan kerjasama antara siswa, guru dan orang tua agar memperoleh hasil yang membanggakan, atau mendapatkan hasil yang efektif.

Jadi  dijelaskan bahwa kultur sekolah yang baik itu melibatkan seluruh warga sekolah dalam mendukung siswa dalam berprestasi, maka perlu diketahui pula peran warga sekolah dalam mendukung dan memberikan motivasi bagi siswa-siswi.

Herminarto (Furkan, 2013: 33) 

mengidentifikasi kultur sekolah 

sebagai berikut:

1. Artifak

Artifak memiliki dua jenis, yaitu: 

a) artifak yang dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian.

 b) artifak yang tidak dapat diamati berupa norma-norma atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.

2. Nilai-nilai keyakinan

Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: 

a) ungkapan rajin pangkal pandai, 

b) air beriak  tak dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain. Nilai dan keyakinan ini biasanya tersembunyi dalam artifak yang ada pada kultur sekolah yang bersangkutan. Di balik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berbentuk nilai-nilai seperti mutu, disiplin, toleransi dan sebagainya. Kemudian juga terdapat keyakinan yang tergambarkan melalui keinginan untuk memperbaiki mutu sekolah agar mampu bersaing dengan sekolah lainnya.

Menurut Djemari Mardapi (Furkan, 2013: 31-32) membagi unsur-unsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan sebagai 

berikut:

1. Budaya sekolah yang positif

Budaya sekolah positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerja sama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar.

2. Budaya sekolah yang negatif

Budaya sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misalnya siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah.

3. Budaya sekolah yang netral

Budaya sekolah netral yaitu budaya yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain.

Peran penting kultur sekolah juga dapat dicermati dengan pernyataan Peterson dan Deal (Zamroni, 2016: 93) yang mengatakan “At a deeper level, all organizations, especially schools, improve performance by fostering a shared system of norms folkways, values, and traditions. These infuse the enterprise with passion, purpose, and a sense of spirit. Without a strong, positive culture, schools flounder and die”.




Minggu, 25 April 2021

Magang 1, pertemuan ke 3

 Strategi pembelajaran.

Baiklah, kali ini saya akan menyampaikan hasil laporan bacaan saya yang mana kali ini saya mengambil judul tentang strategi pembelajaran.

Bahwasanya strategi secara umum ialah perencanaan. Jadi, setiap pembelajaran tersebut tetap ada strategi ataupun perencanaan perencanaan terlebih dahulu untuk mencapai suatu tujuan yang di inginkan. Yang mana strategi pembelajaran membutuhkanbanyak pemikiran dan Analisa untuk menjelaskan hal tersebut secara satu per satu. Pembelajaran bahasa yang efektif didasari dengan strategi yang tepat.

Strategi yang terencana mempunyai Peranan penting dalam proses Pembelajaran dalam mencapai tujuan tertentu, agar tujuan tersebut sesuai sasaran. Yang mana Strategi dalam pembelajaran ini erat kaitannya dengan teknis dalam melaksanakan pembelajaran tersebut. Agar strategi tersebut tidak menjauh dari sasaran yang ingindicapai, perlu pemahaman yang lebih. Pemahaman tersebut diawali dari stimulus pada setiap individu dalam mendorong atau memotivasi sehingga memberikan respon dalam kegiatan pembelajaran yang baik.

Srategi adalah suatu seni merancang Operasi di dalam peperangan seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat dalam berperang, seperti dalam angkatan darat atau angkatan laut.yang mana di sini saya mengambil pengertian strategi secara umum yaitu strategi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 

Selain itu Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Menurut O’Malley dan Chamot (1990), strategi adlah seperangkat alat yang melibatkan individu secara langsung untuk mengembangkan bahasa kedua atau bahasa asing. Strategi sering dihubungkan denganprestasi bahasa dan kecakapan dalam menggunakan bahasa.

Untuk memahami makna strategi secara lebih dalam, biasanya dikaitkan dengan istilah pendekatan dan metode. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) Pendekatan adalah proses, Perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. Metode adalah rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib. Sifat sebuah metode adalah prosedural. Yangmana Strategi belajar dapat digambarkan sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford Mendefinisikan strategi belajar sebagai tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah, dan menyenangkan. Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berfikir yang digunakan serta mempengaruhi apa yang dipelajari.

 Disini terdapat beberapa strategi pembelajaran antara lain yaitu Strategi belajar menurut Huda (1999), antara lain:

1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. Strategi utama dipakai secara langsung dalam mencerna materi pembelajaran. Strategi pendukung dipakai untuk mengembangkan sikap belajar dan membantu pembelajar dalam mengatasi masalah seperti gangguan, kelelahan, frustasi, dan lain sebagainya.

2. Strategi Kognitif dan Strategi Metakognitif. Strategi kognitif dipakai untuk mengelola materi pembelajaran agad dapatdiingat untuk jangka waktu yang lama. Strategi metakognitif adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti monitoring diri sendiri, dan penguatan diri sendiri.

3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.Strategi sintaksis adalah kata fungsi, awalan, akhiran, dan penggolongan kata. Strategi semantik adalah berhubungan dengan objek nyata, situasi, dan kejadian.

Selain itu terdapat juga Strategi pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, yaitu,

1. Penekanan Komponen dalam Program PengajaranKomponen program pengajaran anatara lain yang berpusat pada pengajar, peserta didik, dan materi pengajaran. Berpusat pada pengajar, pengajar menyampaikan Informasi kepada peserta didik. Teknik penyajian adalah teknik ceramah, teknik team teaching, teknik sumbang saran, teknik demonstrasi, dan teknik antar disiplin.

2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian, baik berupa bahan tertulis maupun penjelasan secara verbal. Strategi pembelajaran heuristik adalah sebuah strategi yang menyiasati agar aspek-aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem intruksional mengarah kepada pengaktifan peserta didik untuk mencari dan menemukan fakta, prinsip, serta konsep yang mereka butuhkan.

3. Pengelohan Pesan atau MateriD Dibedakanmenjadi dua, yaitu strategi pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah mulai dari hal umum menuju kepada hal khusus. Misalnya bila pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi pembelajaran induksi adalah pesan diolah mulai dari hal-hal yang khusus menuju kepada konsep yang bersifat umum.

4. Cara Memproses PenemuanDibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian yang dapat berupa bahan tertulis atau penjelasan verbal. Strategi penemuan (discovery)adalah proses yang mampu mengasimilasikan sebuah konsep atau prinsip. Seperti mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan membuat kesimpulan

Sabtu, 17 April 2021

Magang 1, pertemuan ke 2

Manajemen Sekolah

Baiklah, selanjutnya saya akan menyampaikan laporan hasil bacaan saya, yang mana disini saya memilih  Materi Manajemen Sekolah, yang mana materi ini manyangkut tentang manajemen sekolah yang seharusnya diterapkan disekolah demi mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar dikelas bisa terlaksana dengan baik dan agar bisa mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana mestinya.
Yang mana manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola, dan pengelolaan tersebut dilakukan untuk mendayagunakan sumber daya yang dimiliki secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Rohiat Rohiat (2010:14) menyatakan "manajemen merupakan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki 
secara efektif dan efesien untuk mencapai 
tujuan harus benar-benar dipahami oleh kepala Sekolah". Sepak terjang manager dalam mengelola sumber daya di dalam sekolah akan sangat tergantung pada kompetensi (skill) kepala sekolah itu sendiri.
Manajemen memilik arti yang luas yang mana manajemen dalam arti luas adalah 
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Yang mana apabila tujuan tersebut tercapai secara sempurna maka itu bisa menjadi kepuasan dihari kita sendiri.
 Selain itu manajemen dalam arti sempit adalah manajemen sekolah/ madrasah yang meliputi: perencanaan program sekolah/ madrasah, pelaksanaan program sekolah/ madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/ madrasah, pengawas/ evaluasi, dan sistem informasi sekolah/ madrasah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserrta didik. Potensi tersebut meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Yang mana disini manajemen sekolah merupakan proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian,vpengarahan dan pengawasan sekolah agar tercapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkannya. Dan kepala sekolah tersebut mempunyai prioritas dalam manajemen sekolah, yang mana prioritasnya itu adalah manajemen pembelajaran.

Selanjutnya manajemen sekolah mempunyai fungsi secara umum, manajemen sekolah ada empat fungsi manajemen yang mana manajemen tersebut banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan ( planning), yang mana fungsi perencanaan yaitu suatu kegiatan untuk membuat tujuan sekolah dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut.
Fungsi pengorganisasian ( organizing) yang mana fungsi pengorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumber daya fisik lain yang dimiliki untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta mencapa tujuan.
Fungsi Pengarahan ( Directing ) Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
Fungsi Pengendalian (Controling)
Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
Fungsi (dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1990) berkaitan dengan jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Fungsi manajemen sekolah berkaitan dengn pekerjaan-pekerjaan manajemen sekolah. Fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah dapat diklasifikasikan menurut wujud problemnya, kegiatan manajemen dan kegiatan kepemimpinan.

Minggu, 11 April 2021

MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

 Magang 1- Media pembelajaran 


Pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar.

Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai integral dalam program pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa serta diarahkan kepada perubahan tingkah-laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam perencanaan ini media yang akan dipakai dan cara mengunakannya telah dipertimbangkan dan ditentukan dengan seksama.

Yang mana media pembelajaran itu Media pembelajaran bisa dipahami sebagai media yang digunakan dalam proses dan tujuan pembelajaran. Pada hakikatnya proses pembelajaran juga merupakan komunikasi, maka media pembelajaran bisa dipahami sebagai media komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi tersebut, media. Pembelajaran memiliki peranan penting sebagai sarana untuk menyalurkan pesan pembelajaran.

Pada dasarnya guru dan ahli video visual menyambut baik perubahan ini. Guru-guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah-laku siswa. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai format media. Dari pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu berbeda-beda, sebagian lebih cepat belajar melalui media.v

visual sebagian melalui media audio, sebagian lebih senang melalui media cetak, yang lain melalui media audio visual, dan sebagainya. Dari situ lahirlah konsep penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran.

Ciri ciri media pembelajaran

1. Ciri Fiksatif (Fixative Property),Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekontstruksi suatu peristiwa atau objek.

2. Ciri Manipulatif (Manipulative Property), Transformasisuatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiki ciri manipulatif.

3. Ciri Distributif (Distributive Property)Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulasi pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.

Fungsi dan Manfaat Media PembelajaranD Juga terdapat dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan yang mana emilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakeristik siswa. 

Meskipun dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Levie & Lentz (1982: 20) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, khususnya media visual, yaitu 

1.Fungsi atensi 

Yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

2. Fungsi Afektif

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. 

3. Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

4. Fungsi Kompensatoris

Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Sumber Rujukan/Daftar Pustaka 

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/5798/4151