Jumat, 09 Juli 2021

Magang 1, Pertemuan 4

 Kultur sekolah 

Baiklah pada kesempatan ini saya akan menuliskan hasil laporan saya yang berjudul kultur sekolah, yang mana Sekolah merupakan institusi pendidikan yang menjadi wadah dan berlangsungya proses pendidikan, memiliki sistem yang komplek dan dinamis dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju. Sekolah sebagai pusat pendidikan formal lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan efektifitas dalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat (Gunawan, 2010: 113), selain itu sekolah haruslah bersikap antisipatif dalam proses pertumbuhan dari masa sekarang menuju masa depan dengan nilai-nilai, visi, misi dan strategi serta program yang jelas (Maliki, 2010: 276). 


sekolah merupakan sebuah lembaga, maka tidak terlepas dari peran yang melekat pada institusi pendidikan tersebut.Sekolah merupakan  suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang membentuk satu kesatuan yang utuh. Jadi di sekolah itu terdapat berbagai macam sistem sosial yang berkembang dari sekelompok individu yang saling berinteraksi, saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga membentuk suatu perilaku yang baik atau buruk dari hasil  hubungan individu dengan individu maupun dengan lingkungannya (Dewi, 2012).

Sekolah sebagai tempat terjadinya proses pendidikan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah diterapkan sejak dahulu untuk mendidik siswa. Ketika kebiasaan-kebiasaan, tata cara dan norma-norma dari sekolah sudah diterapkan sejak dahulu untuk keberlanjutan proses pendidikan di sekolah dalam saat ini, yang kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture). 

Yang mana disini juga terdapat  budaya sekolah merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah sebab merupakan suatu yang dapat menjelaskan, menggambarkan, dan mengidentifikasi mengenai sekolah tersebut baik secara nyata maupun tidak nyata. Misalnya menjelaskan mengenai tujuan, visi dan misi dari adanya pembangunan sekolah tersebut.

Terkait dengan sekolah, budaya atau kultur merujuk pada suatu proses pewarisan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat.

Konsep kultur menurut Deal dan Peterson (Hanum, 2013: 194) memiliki sejarah yang panjang untuk mengeksplorasi perilaku-perilaku manusia dalam kelompok-kelompoknya. Dan 

menurut Brown (Hanum, 2013: 194) kata budaya (culture) itu sendiri secara umum menunjukkan kepada sebuah kumpulan nilai-nilai, sikap, kepercayaan dan norma-norma bersama, baik yang eksplisit,maupun yang bersifat implisit. 


Setiap sekolah memiliki kultur yang berbeda-beda sesuai dengan budayanya yang telah melekat dalam ritual-ritual dan tradisi-tradisi sejarah dan pengalaman sekolah.

Jadi sekolah sekolah yang baik sekolah tersebut memiliki kultur yang baik akan mendapat apresiasi dari masyarakat. 

Dalam memasarkan sekolah yang unggul dan berkualitas menjadi modal untuk menarik minat masyarakat. Dengan citra tersebut, maka sekolah  ini akan mendapat pengakuan dari masyarakat. Jadi itulah perlunya memasarkan sekolah yang unggul. Maka para orang tua tidak akan ragu menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah pilihan yang sudah mendapat kepercayaan tersebut. Selain keunggulan, kita juga harus mempunya bukti bahwa sekolah tersebut baik, dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa sekolah itu baik.

Kultur sekolah mendukung terciptanya motivasi berprestasi untuk para siswa di sekolah. Sebagai sasaran dan obyek dalam dunia pendidikan, peserta didik diberikan kesempatan yang sama dalam mengasah bakat, minat, keterampilan, (skill), dan pengetahuan yang telah diperoleh selama berada di sekolah. Setiap peserta didik membawa kulturnya masing-masing dari sekolah sebelumya dan harus disesuaikan dengan keadaan kultur sekolah yang baru (Hanum, 2013). 

Selain itu Untuk menciptakan kultur berprestasi agar peserta didik tertarik dan mau terlibat dengan perbaikan mutu sekolah maka komponen sekolah yang sudah sepakat untuk memajukan kultur sekolah yang baik harus bekerja keras membangkitkan semangat berprestasi untuk para siswa. Khususnya kepala sekolah dan guru, yang berinteraksi secara langsung dengan orang tua dan siswa di sekolah dalam membangun semangat dan mendukung keputusan dari siswa untuk mendalami kemampuan ang mereka miliki. Jadi disini perlu sekali bimbingan dan kerjasama antara siswa, guru dan orang tua agar memperoleh hasil yang membanggakan, atau mendapatkan hasil yang efektif.

Jadi  dijelaskan bahwa kultur sekolah yang baik itu melibatkan seluruh warga sekolah dalam mendukung siswa dalam berprestasi, maka perlu diketahui pula peran warga sekolah dalam mendukung dan memberikan motivasi bagi siswa-siswi.

Herminarto (Furkan, 2013: 33) 

mengidentifikasi kultur sekolah 

sebagai berikut:

1. Artifak

Artifak memiliki dua jenis, yaitu: 

a) artifak yang dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian.

 b) artifak yang tidak dapat diamati berupa norma-norma atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.

2. Nilai-nilai keyakinan

Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: 

a) ungkapan rajin pangkal pandai, 

b) air beriak  tak dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain. Nilai dan keyakinan ini biasanya tersembunyi dalam artifak yang ada pada kultur sekolah yang bersangkutan. Di balik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berbentuk nilai-nilai seperti mutu, disiplin, toleransi dan sebagainya. Kemudian juga terdapat keyakinan yang tergambarkan melalui keinginan untuk memperbaiki mutu sekolah agar mampu bersaing dengan sekolah lainnya.

Menurut Djemari Mardapi (Furkan, 2013: 31-32) membagi unsur-unsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan sebagai 

berikut:

1. Budaya sekolah yang positif

Budaya sekolah positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerja sama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar.

2. Budaya sekolah yang negatif

Budaya sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misalnya siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah.

3. Budaya sekolah yang netral

Budaya sekolah netral yaitu budaya yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain.

Peran penting kultur sekolah juga dapat dicermati dengan pernyataan Peterson dan Deal (Zamroni, 2016: 93) yang mengatakan “At a deeper level, all organizations, especially schools, improve performance by fostering a shared system of norms folkways, values, and traditions. These infuse the enterprise with passion, purpose, and a sense of spirit. Without a strong, positive culture, schools flounder and die”.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar