Jumat, 09 Juli 2021

Magang 1, pertemuan 6

assallamuallaikum wr.wb, baiklah pada kali ini saya akan menyampaikkan hasil laporan saya yang berjudul  4 Kompetensi Guru Profesional,  yang mana Empat Kompetensi GuruKompetensi guru dapat diartikan sebagaikebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuhtanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. jelas bahwa seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimilikinya, kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksisosial baik dengan sesama peserta didik maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Karena seorang guru tidak hanya terampil dalam mengajar tentu juga harus memiliki pribadiyang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. (Feralys Novauli, 2015 : 46) 

Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi di samping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam prosedur dan sistem pengawasan tertentu. Kompetensi diartikan dan dimaknai sebagai perangkat perilaku efektif yang terkait dengan eksplorasi dan investigasi, menganalisis dan memikirkan, serta memberikan perhatian, dan mempersepsi yang mengarahkan seseorang menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Kompetensi bukanlah suatu titik akhir dari suatu upaya melainkan suatu proses yang berkembang dan belajar sepanjang hayat (life long learning process). Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar kompetensi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.  penyesuaian substansi dengan tuntutan dan ruang gerak kurikuler, serta pemahaman manajemen pembelajaran. (Reksa Setiawan, 2015 : 132).

Empat kompetensi guru menurutSyaiful Sagala (2009 : 39-41) :

1. Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik meliputi a) pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan, b) guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, c) guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar, d) guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, e) mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif, f) mampu melakukan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur dan standar yang dipersyaratkan, dan g) mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi Kepribadian, dilihat dari aspek psikologis kompetensi kepribadian guru menunjukkan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian a) mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial, dan etika yang berlaku, b) dewasa yang berarti mempunyai kemandirian untuk bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru, c) arif dan bijaksana yaitu tampilannya bermanfaat bagi peserta peserta didik, sekolah, dan masyarakat dengan menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak, d) berwibawa yaitu perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap peserta didik, dan e) memiliki akhlak mulia dan memiliki perilaku yang dapatditeladani oleh peserta didik, bertindak sesuai norma religius, jujur, ikhlas, dan suka menolong.

3. Kompetensi Sosial, artinya kompetensi sosial terkait dengan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, guru berperilaku santun, mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif dan menarik mempunyai rasa empati terhadap orang lain. Kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan menarik dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, masyarakat sekitar sekolah dan sekitar dimana pendidik itu tinggal, dan dengan pihak-pihak berkepentingan dengan sekolah.

4. Kompetensi Profesional, mengacu pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Mengenai perangkat kompetensi profesional biasanya dibedakan profil kompetensi yaitu mengacu kepada berbagai aspek kompetensi yang dimiliki seorang tenaga profesional pendidikan dan spektrum kompetensi yaitu mengacu kepada variasi kualitatif dan kuantitatif. Tanpa kompetensi, guru bak nahkoda di tengah samudra minus keahlian memadai, sementara di depannya ombak tinggi siap menggulung kapal. Sudah pasti nahkoda yang minus keahlian itu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kapalnya tenggelam tersapu ombak ke dasar samudera. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012: 102)Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012 : 107)

 jadi disini Empat kompetensi guru perlu dipahami dan dihayati bagi setiap guru maupun calon guru. Dengan penguasaan kompetensi pedagogis,kepribadian, sosial dan profesional maka guru dapat melakukan hal yang semestinya dilakukan guru yang tentunya sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini perlu dipahai supaya sedikit demi sedikit dapat menghilangkan persepsi bahwa tugas guru hanyalah sebagai fasilitator menyampaikan materi atau sekedar mentransfer pengetahuan.Dengan demikian tujuan pendidikan yang telah dibuat bersama dapat tercapai. Tanpa kompetensi, guru bak nahkoda di tengah samudra minus keahlian memadai, sementara di depannya ombak tinggi siap menggulung kapal. Sudah pasti nahkoda yang minus keahlian itu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kapalnya tenggelam tersapu ombak ke dasar samudera.SaranSebagai pendidik atau calon pendidik sebaiknya mulai belajar memahami dan menerapkan empat kompetensi guru. Empat kompetensi tersebut penting sebagai bekal untuk menemukan hakikat pendidikan dan bekal mencapai tujuan pendidikan sekolah dasar di Indonesia supaya pendidikan di Indonesia semakin baik. Dengan adanya pendidikan yang baik maka akan terlahir sumberdaya manusia yang baik pula.

Magang 1, Pertemuan 5

 Manajemen Kelas 


baik lah pada pertemuan ini saya akan melaporkan hasil bacaan saya yang berjudul  Manajemen Kelas yang mana Manajemen merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Karena terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. 

    Jadi disini kita  dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah suatu  penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Sebelum kita membahas tentang manajemen kelas, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu apa pengertian dari pada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yakni :

a. Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.

b. Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kelas diartikan sebagai ruangan belajar atau rombongan belajar, yang dibatasi oleh empat dinding atau tempat peserta didik belajar, dan tingkatan (grade). Ia juga dapat dipandang sebagai kegiatan belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat dan waktu tertentu.

Setelah berbicara tentang pengertian dari Manajemen dan Kelas diatas, maka dibawah ini para ahli pendidikan mendefinisikan manajemen kelas, antara lain :

 Menurut definisi ini, yang dimaksud dengan manajemen kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimumkan efisiensi, memantap kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalap  yang mungkin timbul. 

 

Drs. Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa “manajemen kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.” Dari beberapa pendapat para ahli diatas dan masih banyak lagi pendapat yang lain, 

jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah.

selain itu terdapat juga unsur-unsur manajemen:

a. Man (Manusia) Dalam pendekatan ekonomi, sumber daya manusia adalah salah satu faktor produksi selain tanah, modal, dan keterampilan. 

b. Money (Uang) Uang selalu dibutuhkan dalam perusahaan, mulai dari pendirian perusahaan hingga pengurusan perizinan pembangunan gedung kantor, pabrik, peralatan modal, pembayaran tenaga kerja, pembelian bahan mentah, dan transportasi. 

c. Material (Bahan Baku)Perusahaan umumnya tidak menghasilkan sendiri bahan mentah yang dibutuhkan tersebut, melainkan membeli dari pihak lain. 

d. Machine (Mesin) Mesin mulai memegang peranan penting dalam proses produksi setelah terjadinya revolusi industri dengan ditemukannya mesin uap sehingga banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin. 

e. Methode (Metode) Metode kerja sangat dibutuhkan agar mekanisme kerja berjalan efektif dan efisien. 

f. Market ( Pasar) Pasar merupakan tempat kita memasarkan produk yang telah diproduksi.Pasar sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan. 

g. Information (Informasi)Tentu saja informasi sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan. Informasi tentang apa yang sedang populer, apa yang sedang disukai, apa yang sedang terjadi di masyarakat, dsb. 


Jadi Manajemen tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya ketujuh unsur tersebut.

Unsur- unsur pengelolaan kelas meliputi:

1. Preventif, yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran. Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan preventis antara lain :

a) Tanggap / peka, 

b) Perhatian \\

2. Refrensif, keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas.

3. Modifikasi Tingkah laku, yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati.

a) Pengelolaan kelompok, 

b) Diagnosis

Selain itu terdapat juga  Fungsi Manajemen Kelas, Fungsi manajemen adalah sebagai wahana bagi perserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya.

Selain itu manajemen kelas juga mempunyai tujuan, yang mana tujuannya ialah manajemen kelas mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); 

Adapun tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut :

a. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

b. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan atau perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban. 

c. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.

Jadi, Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi di dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan manajemen kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 

 selain itu Disini ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pertimbangan dalam upaya menciptakan disiplin kelas yang efektif, antara lain sebagai berikut : 

a. Pendekatan Manajerial 

b. Pendekatan Psikologis

c. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

d.  Pendekatan Elektif (Electic Approach) 


Manajemen Kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar meliputi: perencanaan pembelajaran, pengarahan, mengatur ruang kelas, komunikasi; dan kontrol. Hal ini diimplementasikan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar sehingga dapat meraih prestasi yang murni. selain itu adajuga Faktor penghambat manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar adalah . Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang. selain itu Faktor peserta didik. Kekurang sadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas. ada juga Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan Keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik pengganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home. selain itu ada juga Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.

 selain faktor, kita juga harus adaUsaha-usaha yang harus ditempuh dalammanajemen kelas sehingga dapat meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar yaitu: a) mempersiapkan tugas administratif, b) penggunaan metode pembelajaran dan media pembelajaran yang bervariasi; dan c) menggunakan pendekatan pluralistik.

Magang 1, Pertemuan 4

 Kultur sekolah 

Baiklah pada kesempatan ini saya akan menuliskan hasil laporan saya yang berjudul kultur sekolah, yang mana Sekolah merupakan institusi pendidikan yang menjadi wadah dan berlangsungya proses pendidikan, memiliki sistem yang komplek dan dinamis dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju. Sekolah sebagai pusat pendidikan formal lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan efektifitas dalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat (Gunawan, 2010: 113), selain itu sekolah haruslah bersikap antisipatif dalam proses pertumbuhan dari masa sekarang menuju masa depan dengan nilai-nilai, visi, misi dan strategi serta program yang jelas (Maliki, 2010: 276). 


sekolah merupakan sebuah lembaga, maka tidak terlepas dari peran yang melekat pada institusi pendidikan tersebut.Sekolah merupakan  suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang membentuk satu kesatuan yang utuh. Jadi di sekolah itu terdapat berbagai macam sistem sosial yang berkembang dari sekelompok individu yang saling berinteraksi, saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga membentuk suatu perilaku yang baik atau buruk dari hasil  hubungan individu dengan individu maupun dengan lingkungannya (Dewi, 2012).

Sekolah sebagai tempat terjadinya proses pendidikan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sudah diterapkan sejak dahulu untuk mendidik siswa. Ketika kebiasaan-kebiasaan, tata cara dan norma-norma dari sekolah sudah diterapkan sejak dahulu untuk keberlanjutan proses pendidikan di sekolah dalam saat ini, yang kemudian akan menjadi sebuah budaya sekolah (school culture). 

Yang mana disini juga terdapat  budaya sekolah merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah sebab merupakan suatu yang dapat menjelaskan, menggambarkan, dan mengidentifikasi mengenai sekolah tersebut baik secara nyata maupun tidak nyata. Misalnya menjelaskan mengenai tujuan, visi dan misi dari adanya pembangunan sekolah tersebut.

Terkait dengan sekolah, budaya atau kultur merujuk pada suatu proses pewarisan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat.

Konsep kultur menurut Deal dan Peterson (Hanum, 2013: 194) memiliki sejarah yang panjang untuk mengeksplorasi perilaku-perilaku manusia dalam kelompok-kelompoknya. Dan 

menurut Brown (Hanum, 2013: 194) kata budaya (culture) itu sendiri secara umum menunjukkan kepada sebuah kumpulan nilai-nilai, sikap, kepercayaan dan norma-norma bersama, baik yang eksplisit,maupun yang bersifat implisit. 


Setiap sekolah memiliki kultur yang berbeda-beda sesuai dengan budayanya yang telah melekat dalam ritual-ritual dan tradisi-tradisi sejarah dan pengalaman sekolah.

Jadi sekolah sekolah yang baik sekolah tersebut memiliki kultur yang baik akan mendapat apresiasi dari masyarakat. 

Dalam memasarkan sekolah yang unggul dan berkualitas menjadi modal untuk menarik minat masyarakat. Dengan citra tersebut, maka sekolah  ini akan mendapat pengakuan dari masyarakat. Jadi itulah perlunya memasarkan sekolah yang unggul. Maka para orang tua tidak akan ragu menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah pilihan yang sudah mendapat kepercayaan tersebut. Selain keunggulan, kita juga harus mempunya bukti bahwa sekolah tersebut baik, dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa sekolah itu baik.

Kultur sekolah mendukung terciptanya motivasi berprestasi untuk para siswa di sekolah. Sebagai sasaran dan obyek dalam dunia pendidikan, peserta didik diberikan kesempatan yang sama dalam mengasah bakat, minat, keterampilan, (skill), dan pengetahuan yang telah diperoleh selama berada di sekolah. Setiap peserta didik membawa kulturnya masing-masing dari sekolah sebelumya dan harus disesuaikan dengan keadaan kultur sekolah yang baru (Hanum, 2013). 

Selain itu Untuk menciptakan kultur berprestasi agar peserta didik tertarik dan mau terlibat dengan perbaikan mutu sekolah maka komponen sekolah yang sudah sepakat untuk memajukan kultur sekolah yang baik harus bekerja keras membangkitkan semangat berprestasi untuk para siswa. Khususnya kepala sekolah dan guru, yang berinteraksi secara langsung dengan orang tua dan siswa di sekolah dalam membangun semangat dan mendukung keputusan dari siswa untuk mendalami kemampuan ang mereka miliki. Jadi disini perlu sekali bimbingan dan kerjasama antara siswa, guru dan orang tua agar memperoleh hasil yang membanggakan, atau mendapatkan hasil yang efektif.

Jadi  dijelaskan bahwa kultur sekolah yang baik itu melibatkan seluruh warga sekolah dalam mendukung siswa dalam berprestasi, maka perlu diketahui pula peran warga sekolah dalam mendukung dan memberikan motivasi bagi siswa-siswi.

Herminarto (Furkan, 2013: 33) 

mengidentifikasi kultur sekolah 

sebagai berikut:

1. Artifak

Artifak memiliki dua jenis, yaitu: 

a) artifak yang dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian.

 b) artifak yang tidak dapat diamati berupa norma-norma atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.

2. Nilai-nilai keyakinan

Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: 

a) ungkapan rajin pangkal pandai, 

b) air beriak  tak dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain. Nilai dan keyakinan ini biasanya tersembunyi dalam artifak yang ada pada kultur sekolah yang bersangkutan. Di balik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berbentuk nilai-nilai seperti mutu, disiplin, toleransi dan sebagainya. Kemudian juga terdapat keyakinan yang tergambarkan melalui keinginan untuk memperbaiki mutu sekolah agar mampu bersaing dengan sekolah lainnya.

Menurut Djemari Mardapi (Furkan, 2013: 31-32) membagi unsur-unsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan sebagai 

berikut:

1. Budaya sekolah yang positif

Budaya sekolah positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerja sama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi dan komitmen terhadap belajar.

2. Budaya sekolah yang negatif

Budaya sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misalnya siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah.

3. Budaya sekolah yang netral

Budaya sekolah netral yaitu budaya yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain.

Peran penting kultur sekolah juga dapat dicermati dengan pernyataan Peterson dan Deal (Zamroni, 2016: 93) yang mengatakan “At a deeper level, all organizations, especially schools, improve performance by fostering a shared system of norms folkways, values, and traditions. These infuse the enterprise with passion, purpose, and a sense of spirit. Without a strong, positive culture, schools flounder and die”.




Minggu, 25 April 2021

Magang 1, pertemuan ke 3

 Strategi pembelajaran.

Baiklah, kali ini saya akan menyampaikan hasil laporan bacaan saya yang mana kali ini saya mengambil judul tentang strategi pembelajaran.

Bahwasanya strategi secara umum ialah perencanaan. Jadi, setiap pembelajaran tersebut tetap ada strategi ataupun perencanaan perencanaan terlebih dahulu untuk mencapai suatu tujuan yang di inginkan. Yang mana strategi pembelajaran membutuhkanbanyak pemikiran dan Analisa untuk menjelaskan hal tersebut secara satu per satu. Pembelajaran bahasa yang efektif didasari dengan strategi yang tepat.

Strategi yang terencana mempunyai Peranan penting dalam proses Pembelajaran dalam mencapai tujuan tertentu, agar tujuan tersebut sesuai sasaran. Yang mana Strategi dalam pembelajaran ini erat kaitannya dengan teknis dalam melaksanakan pembelajaran tersebut. Agar strategi tersebut tidak menjauh dari sasaran yang ingindicapai, perlu pemahaman yang lebih. Pemahaman tersebut diawali dari stimulus pada setiap individu dalam mendorong atau memotivasi sehingga memberikan respon dalam kegiatan pembelajaran yang baik.

Srategi adalah suatu seni merancang Operasi di dalam peperangan seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat dalam berperang, seperti dalam angkatan darat atau angkatan laut.yang mana di sini saya mengambil pengertian strategi secara umum yaitu strategi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 

Selain itu Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Menurut O’Malley dan Chamot (1990), strategi adlah seperangkat alat yang melibatkan individu secara langsung untuk mengembangkan bahasa kedua atau bahasa asing. Strategi sering dihubungkan denganprestasi bahasa dan kecakapan dalam menggunakan bahasa.

Untuk memahami makna strategi secara lebih dalam, biasanya dikaitkan dengan istilah pendekatan dan metode. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) Pendekatan adalah proses, Perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. Metode adalah rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib. Sifat sebuah metode adalah prosedural. Yangmana Strategi belajar dapat digambarkan sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford Mendefinisikan strategi belajar sebagai tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah, dan menyenangkan. Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berfikir yang digunakan serta mempengaruhi apa yang dipelajari.

 Disini terdapat beberapa strategi pembelajaran antara lain yaitu Strategi belajar menurut Huda (1999), antara lain:

1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. Strategi utama dipakai secara langsung dalam mencerna materi pembelajaran. Strategi pendukung dipakai untuk mengembangkan sikap belajar dan membantu pembelajar dalam mengatasi masalah seperti gangguan, kelelahan, frustasi, dan lain sebagainya.

2. Strategi Kognitif dan Strategi Metakognitif. Strategi kognitif dipakai untuk mengelola materi pembelajaran agad dapatdiingat untuk jangka waktu yang lama. Strategi metakognitif adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti monitoring diri sendiri, dan penguatan diri sendiri.

3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik.Strategi sintaksis adalah kata fungsi, awalan, akhiran, dan penggolongan kata. Strategi semantik adalah berhubungan dengan objek nyata, situasi, dan kejadian.

Selain itu terdapat juga Strategi pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, yaitu,

1. Penekanan Komponen dalam Program PengajaranKomponen program pengajaran anatara lain yang berpusat pada pengajar, peserta didik, dan materi pengajaran. Berpusat pada pengajar, pengajar menyampaikan Informasi kepada peserta didik. Teknik penyajian adalah teknik ceramah, teknik team teaching, teknik sumbang saran, teknik demonstrasi, dan teknik antar disiplin.

2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian, baik berupa bahan tertulis maupun penjelasan secara verbal. Strategi pembelajaran heuristik adalah sebuah strategi yang menyiasati agar aspek-aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem intruksional mengarah kepada pengaktifan peserta didik untuk mencari dan menemukan fakta, prinsip, serta konsep yang mereka butuhkan.

3. Pengelohan Pesan atau MateriD Dibedakanmenjadi dua, yaitu strategi pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah mulai dari hal umum menuju kepada hal khusus. Misalnya bila pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi pembelajaran induksi adalah pesan diolah mulai dari hal-hal yang khusus menuju kepada konsep yang bersifat umum.

4. Cara Memproses PenemuanDibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian yang dapat berupa bahan tertulis atau penjelasan verbal. Strategi penemuan (discovery)adalah proses yang mampu mengasimilasikan sebuah konsep atau prinsip. Seperti mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan membuat kesimpulan

Sabtu, 17 April 2021

Magang 1, pertemuan ke 2

Manajemen Sekolah

Baiklah, selanjutnya saya akan menyampaikan laporan hasil bacaan saya, yang mana disini saya memilih  Materi Manajemen Sekolah, yang mana materi ini manyangkut tentang manajemen sekolah yang seharusnya diterapkan disekolah demi mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar dikelas bisa terlaksana dengan baik dan agar bisa mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana mestinya.
Yang mana manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola, dan pengelolaan tersebut dilakukan untuk mendayagunakan sumber daya yang dimiliki secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Rohiat Rohiat (2010:14) menyatakan "manajemen merupakan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki 
secara efektif dan efesien untuk mencapai 
tujuan harus benar-benar dipahami oleh kepala Sekolah". Sepak terjang manager dalam mengelola sumber daya di dalam sekolah akan sangat tergantung pada kompetensi (skill) kepala sekolah itu sendiri.
Manajemen memilik arti yang luas yang mana manajemen dalam arti luas adalah 
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Yang mana apabila tujuan tersebut tercapai secara sempurna maka itu bisa menjadi kepuasan dihari kita sendiri.
 Selain itu manajemen dalam arti sempit adalah manajemen sekolah/ madrasah yang meliputi: perencanaan program sekolah/ madrasah, pelaksanaan program sekolah/ madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/ madrasah, pengawas/ evaluasi, dan sistem informasi sekolah/ madrasah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserrta didik. Potensi tersebut meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Yang mana disini manajemen sekolah merupakan proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian,vpengarahan dan pengawasan sekolah agar tercapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkannya. Dan kepala sekolah tersebut mempunyai prioritas dalam manajemen sekolah, yang mana prioritasnya itu adalah manajemen pembelajaran.

Selanjutnya manajemen sekolah mempunyai fungsi secara umum, manajemen sekolah ada empat fungsi manajemen yang mana manajemen tersebut banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan ( planning), yang mana fungsi perencanaan yaitu suatu kegiatan untuk membuat tujuan sekolah dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut.
Fungsi pengorganisasian ( organizing) yang mana fungsi pengorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumber daya fisik lain yang dimiliki untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta mencapa tujuan.
Fungsi Pengarahan ( Directing ) Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
Fungsi Pengendalian (Controling)
Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
Fungsi (dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1990) berkaitan dengan jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Fungsi manajemen sekolah berkaitan dengn pekerjaan-pekerjaan manajemen sekolah. Fungsi-fungsi yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah dapat diklasifikasikan menurut wujud problemnya, kegiatan manajemen dan kegiatan kepemimpinan.

Minggu, 11 April 2021

MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

 Magang 1- Media pembelajaran 


Pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar.

Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai integral dalam program pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa serta diarahkan kepada perubahan tingkah-laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam perencanaan ini media yang akan dipakai dan cara mengunakannya telah dipertimbangkan dan ditentukan dengan seksama.

Yang mana media pembelajaran itu Media pembelajaran bisa dipahami sebagai media yang digunakan dalam proses dan tujuan pembelajaran. Pada hakikatnya proses pembelajaran juga merupakan komunikasi, maka media pembelajaran bisa dipahami sebagai media komunikasi yang digunakan dalam proses komunikasi tersebut, media. Pembelajaran memiliki peranan penting sebagai sarana untuk menyalurkan pesan pembelajaran.

Pada dasarnya guru dan ahli video visual menyambut baik perubahan ini. Guru-guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah-laku siswa. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai format media. Dari pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu berbeda-beda, sebagian lebih cepat belajar melalui media.v

visual sebagian melalui media audio, sebagian lebih senang melalui media cetak, yang lain melalui media audio visual, dan sebagainya. Dari situ lahirlah konsep penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran.

Ciri ciri media pembelajaran

1. Ciri Fiksatif (Fixative Property),Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekontstruksi suatu peristiwa atau objek.

2. Ciri Manipulatif (Manipulative Property), Transformasisuatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiki ciri manipulatif.

3. Ciri Distributif (Distributive Property)Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulasi pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.

Fungsi dan Manfaat Media PembelajaranD Juga terdapat dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan yang mana emilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakeristik siswa. 

Meskipun dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Levie & Lentz (1982: 20) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, khususnya media visual, yaitu 

1.Fungsi atensi 

Yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

2. Fungsi Afektif

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. 

3. Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

4. Fungsi Kompensatoris

Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Sumber Rujukan/Daftar Pustaka 

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/5798/4151










Selasa, 26 November 2019

Ulasan Buku "Pengantar Sejarah Dakwah"

Nama                     : Anggita
Nim                        : 11901034
Kelas                      : PAI 1 D
Mata pelajaran     : Bahasa Indonesia
Dosen pengampu : Farninda Aditya, M. Pd.


Judul Buku        : Pengantar Sejarah Dakwah
Penulis               : Wahyu IIlaihi, S . Ah ., M.A
Penerbit             : PRENADAMEDIA
Tahun Terbit     : Mei 2018
Tebal Halaman : 246 Halaman


Mempelajari Sejarah dakwah sangat penting bagi kita, terutama pengantar, tidak dimaksudkan untuk berbicara tentang sejarah dan dalilnya secara detail. Pembicaraan buku dalam ini hanya sebagai pengantar dengan mbicarakan  garis-garis besar gerakan dakwah dari  masa ke masa, dengan menjelaskan periodisasi dakwah, tokohnya yang paling menonjol, kejadian yang monumental dan pelajaran terpenting yang dapat dipetik. Sedangkan detail kejadian sejarah dan biografi para pelaku sejarahnya telah banyak dikaji dalam kitab-kitab sejarah, kitab-kitab Sirah dan kitab-kitab biografi tokoh. Kitab yang membahas tentang sejarah dakwah secara detail sangat banyak, baik itu klasik maupun kitab modern. Meskipun demikian diakui kitab-kitab tersebut sulit didapatkan diperpustakaan-perpustakaan IAIN atau Perguruan Tinggi Islam, apalagi yang dialih bahasakan ke dalam bahasa indonesia buku Pengantar Sejarah Dakwah ini lebih banyak ditulis untuk memenuhi silabus mata kuliah sejarah dakwah. meskipun demikian buku ini sangat bermanfaat untuk masyarakat umum yang memiliki minat baca tinggi terhadap dakwah Islam.

Selain itu terdapat kelebihan dan kekurangan dibuku ini, kelebihan buku ini ialah disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti,sehingga pembaca secara mudah memahami isi buku, topik-topik nya pun termasuk lengkap seperti tentang dakwah yang dilakukan  para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW yang ditulis secara singkat sehingga membuat si pembaca tidak cepat bosan membacanya. Buku ini pun tidak hanya untuk mahasiswa saja melainkan bisa juga untuk masyarakat yang memiliki minat baca tinggi terhadap buku tersebut. Sedangkan kekurangan yang terdapat pada buku ini ialah sulit didapatkan di perpustakaan-perpustakaan IAIN, didalam buku tidak menggunakan gambar sama sekali, hanya terdapat tulisan, bahan kertas yang digunakan kualitasnya pun kurang baik sehingga mudah sobek.